Selasa, 04 Oktober 2011

Khitthah 2 - Sistem Bermadzhab: Pengertian Ijtihad

Sistem Bermadzhab: Pengertian Ijtihad

Kata ijtihad (اجتهاد) berasal dari kata ijtahada (اجتهد) yang artinya: bersungguh-sungguh, berusaha keras. Kemudian dalam istilah dipergunakan dengan pengertian: mengerahkan daya kemampuan berpikir untuk dapat mengambil kesimpulan pendapat (istinbath = استنباط) sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan sederhana dapat disimpulkan bahwa berijtihad ialah beristinbath sendiri.
Kalau diuraikan (dianalisa), maka perbuatan ijtihad itu berkaitan dengan beberapa unsur:

  1. Mujtahid (مجتهد), orang yang melakukan perbuatan ijtihad.
  2. Masalah (مسألة) yang diijtihadi, yang dicari, hukumnya atau pendapat mengenai masalah itu.
  3. Methoda (طريقة) pengambilan kesimpulan pendapat.
  4. Landasan (الدليل), yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.
  5. Hasil (النتيجة), yaitu hukum atau pendapat mengenai sesuatu masalah.
Kalau diucapkan kata Mujtahid tanpa predikat lain, maka menurut istilah Islam, dimaksudkan Mujtahid Muthlaq (مجتهد مطلق) yaitu imam (tokoh agama) yang mampu berijtihad/beristinbath sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan menggunakan methoda yang ditemukan/dirumuskannya sendiri dan diakui kekuatannya oleh para tokoh agama (Imam) lainnya. Yang paling terkenal di antara para Mujtahid Muthlaq ini ialah: Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.
Mujtahid Muthlaq disebut juga Mujtahid Mustaqil (مجتهد مستقل), artinya “mujtahid bebas”, tidak terikat dengan hasil ijtihad Imam lain dan bebas dari methoda yang ditemukan dan dipergunakan oleh Imam lain.
Di bawah tingkat Mujtahid Muthlaq, ada juga dipergunakan istilah Mujtahid meskipun sudah tidak bebas dari ikatan Mujtahid lain (Mujtahid Muthlaq lain), yaitu:
  1. Mujtahid Madzhab (مجتهد المذهب), yaitu seorang yang sudah mampu beristinbath sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi masih menggunakan methoda dan kaedah yang ditemukan/diciptakan oleh seorang Mujtahid Muthlaq yang diikutinya, seperti Imam Muzani.
  2. Mujtahid Fatwa (مجتهد الفتوى), yaitu seorang yang mampu menilai mana yang terkuat (Tarjih = الترجيح), di antara pendapat-pendapat yang berkembang di dalam suatu madzhab (pendapat-pendapat hasil istinbath para Mujtahid Madzhab). Dari pendapat-pendapat itu, dipilih untuk difatwakan (disampaikan kepada orang lain yang memerlukannya).
Nahdlatul Ulama mengikuti peristilahan yang umumnya dipergunakan di kalangan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bahwa yang dinamakan Mujtahid sepenuhnya hanyalah Mujtahid Muthlaq (Mustaqil). Di bawah tingkat itu, tergolong Muqallid (orang yang bertaqlid).
Tidak semua masalah agama memerlukan ijtihad, memerlukan pengerahan daya kemampuan berpikir untuk mengambil kesimpulan pendapat (istinbath) dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Masalah-masalah yang sudah tercantum dalilnya secara sharih (الصريح  = tegas, jelas) dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, seperti wajibnya shalat lima waktu atau larangan zina dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukanlah perbuatan ijtihad.
Masalah yang perlu diijtihadi hanyalah masalah yang tidak tercantum dalil sharih-nya dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, seperti mengenai jumlah rakaat Shalat Tarawih, bunga bank sekarang ini apakah termasuk riba yang diharamkan, siapakah yang berhak menggantikan Rasulullah Saw. melanjutkan pimpinan negara dan umat, apakah bir termasuk khamr yang diharamkan dan sebagainya. Itulah masalah-masalah ijtihadiyyah (المسائل الإجتهادية = masalah-masalah yang sudah masuk ruang lingkup ijtihad).
Tiap Mujtahid Mustaqil (Mujtahid Muthlaq) mempunyai methoda istinbath yang dirumuskannya sendiri. Dalam satu hal, tidak terdapat perbedaan antara semua methoda istinbath para Mujtahid Mustaqil, yaitu bahwa landasan pertama adalah al-Qur’an kemudian kedua adalah al-Hadits (as-Sunnah) yang shahih (الصحيح = benar, diyakini kekuatan sanad, para perawi dan isinya). Sesudah kedua landasan itu, terdapat perbedaan methoda. Ada yang lebih mendahulukan Qiyas (القياس = analogi), ada yang mendahulukan Mashlahah Mursalah (المسلحة المرسلة = kepentingan umum) san sebagainya.
Ilmu tentang methoda-methoda istinbath ini (methodologi), disebut Ilmu Ushul Fiqh (أصول الفقه = pokok-pokok pengolahan fiqh) dan Qawaidul Fiqhiyyah (القواعد الفقهية = Kaidah-kaidah fiqh). Untuk mampu beristinbath, selain penguasaan teori dan praktek Ushul Fiqh dan Qawaidul Fiqh, mutlak diperlukan penguasaan terhadap banyak macam ilmu yang lain, di antaranya:
  1. Perbendaharaan ilmu pengetahuan agama yang sangat luas terlebih dahulu.
  2. Perbendaharaan ilmu pengetahuan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah secara lengkap.
  3. Penguasaan ilmu bahasa Arab, mengenai lughah, dialek, tata bahasa (Nahwu-Sharaf), sastra (Balaghah = Badi’, Bayan, dan Ma’ani) dan lain sebagainya.
  4. Ilmu Tafsir, tatacara penafsiran (interpretasi) al-Qur’an secara benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
  5. Ilmu Hadits, seleksi dan kategori hadits, tatacara penafsiran Hadits dan lain sebagainya.
  6. Dan lain-lain ilmu pengetahuan tentang agama Islam.
Segala sarana yang bersifat keilmuan tersebut baru akan berguna untuk beristinbath dengan hasil yang terjamin kebenarannya, kalau dilandasi dengan akhlak yang sangat luhur, niat yang murni, keikhlasan yang tinggi, bahwa istinbath yang dilakukan itu semata-mata hanya untuk mencari kebenaran yang diridhai oleh Tuhan Allah Swt. Segala kepentingan pribadi, selera pribadi untuk mendapatkan kemasyhuran dan kemenangan berdebat harus dapat disingkirkan sejauh-jauhnya. Hanya dengan sarana-sarana keilmuan yang sangat luas dan mendalam serta dilandasi oleh syarat akhlak mental yang sangat luhur, maka istinbath dapat dilakukan.
Istinbath didasarkan atas landasan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang tidak cukup hanya dengan satu dua ayat saja. Adakalanya, untuk satu masalah diperlukan beratus-ratus ayat al-Qur’an dan beratus-ratus matan al-Hadits, yang tidak selalu sharih, tidak selalu tegas dan jelas ma’nanya mengenai suatu hal.
Contohnya untuk merumuskan cara melakukan shalat yang sah, yang baik, terang diperlukan ratusan ayat al-Qur’an dan ratusan matan al-Hadits. Tidak boleh beristinbath, hanya berdasar sebuah ayat saja, karena mungkin ada ayat lain yang harus dirangkaikan yang tidak boleh diabaikan mengenai masalah yang diijtihadi.
Al-Qur’an dan al-Hadits, memang tidak disampaikan oleh Rasulullah Saw. secara sekaligus komplit mengenai sesuatu masalah. Situasi dan kondisi yang melatarbelakangi pada saat disampaikannya sebuah ayat al-Qur’an atau matan al-Hadits (Asbabunnuzul = أسباب النزول = sebab-sebab diturunkannya sebuah ayat), harus pula diperhitungkan dalam beristinbath.
Kalau pekerjaan istinbath sudah selesai, maka tercapailah hasil (natijah = النتيجة = hasil) istinbath atau ijtihad itu. Serangkaian hasil ijtihad yang sudah meliputi bermacam-macam masalah, disebut Madzhab (مذهب = tempat berjalan, jalan yang ditempuh, jalan pikiran atau rangkaian pendapat-pendapat).
Pendapat seorang tokoh agama mengenai satu masalah saja, belum dinamakan madzhab, karena belum mencerminkan methoda istinbath dan methoda ijtihadnya, belum membuktikan sikap konsisten (istiqamah = إستقامة = stabilitas metodologis) dari tokoh yang punya pendapat itu pada masalah lain.
Di sinilah terletak arti penting dari ketentuan yang dianut oleh Nahdlatul Ulama, bahwa bertaqlid (menganut atau menggunakan pendapat orang lain) itu dibatasi kepada pendapat-pendapat yang sudah merupakan rangkaian yang lengkap (madzhab) dan pendapat-pendapat itu ditadwin (تدوين = tercatat dan terpelihara secara tertib). Tidak boleh bermadzhab kepada tiap orang yang hanya mempunyai pendapat mengenai satu dua masalah secara terpotong-potong.

Sumber: K.H. Achmad Siddiq, Khitthah Nahdliyyah, Surabaya: Khalista bekerjasama dengan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN NU) Jawa Timur, 2005.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar